Sulit
untuk dipercaya…hal yang memang berada dibenakku ketika ayah dan mama
menceritakan kembali sebuah potongan episode di masa lampau yang sempat menghilang pada memoriku yang
terbatas. Ini bukanlah episode milik orang lain, tapi ini hal yang pernah terjadi
dimana aku sebagai objek pelakunya, hehe ^^.
Sering sekali para orang tua bertanya kepada putra-putrinya, “ nak, jika
sudah besar kamu ingin jadi apa?” atau “cita-citamu apa nak?”. Tentu saja
akupun pernah menerima pertanyaan yang sama dari ayah dan mama. Beberapa kali
mama dan ayah sering menceritakan mengenai cita-citaku dimasa kecil. Inilah
yang membuatku heran… mengapa saat itu aku tak memilih menjadi seorang dokter, polwan,
presiden, atau profesi yang seringkali diimpikan orang-orang. Saat itu…
“emy, nanti kalo sudah besar mau jadi apa?”
“emy
mau jadi ustadzah….”
“ko
jadi ustadzah?”
“biar
emy bisa ngajar ngaji…”
Awalnya
aku sedikit tak percaya…masa iya? diusia itu aku berpikiran untuk menjadi
seorang ustadzah? Ingatanku kembali menyusuri episode yang sempat terlupakan
itu, sampai saat aku membuka kembali buku raport TPA yang sudah tersimpan lama
di lemari kamarku… terlihat photo seorang gadis kecil memakai jilbab warna
hitam bercorakan bunga, gadis kecil itu adalah aku… terlihat ada tulisan yang
terdapat dikolom isian biodata, tulisan khas seorang anak kecil… pandanganku
terpaku pada salah satu kolom isian…
(Cita-cita : Menjadi Ustadzah)
Kau tahu, ustadzah yang aku maksud saat itu
adalah seorang guru mengaji perempuan, yang bertugas mengajarkan cara membaca
Al-quran, membimbing anak-anak cara seorang muslim solat dan mengajarkan do’a
harian… lama aku pandangi kalimat pendek yang terdiri dari dua kata itu. Di
usiaku yang kini sudah beranjak dewasa, tentu aku paham, betapa mulianya sosok
yang disebut ustdzah ini. Ia lah yang menjadi salah satu jalan bagi kita
mengenal huruf-huruf alquran disaat usia kita masih kecil, tak lelah ia
mengejakan huruf demi huruf hijaiyah, disamping itu mereka juga harus menangani
tingkah laku kita yang mungkin sedikit sulit untuk dikondisikan…maklum, saat
kecil aku terkenal dengan sikap tidak bisa diam, alis menclok sana-menclok
sini..hehehe…
Merkalah sosok yang aku kagumi saat kecil…
Mama, wanita yang pertama kali mengajarkan aku
mengenal huruf Al-Quran dan membimbing tanganku memegang sebatang pensil untuk
menulis.
Ibu Oom, sesepuh di kampungku yang mengajariku
iqro, mengenalkan huruf demi huruf dan mengajariku mengingat dan melafalkannya.
Ibu Iis, sosok ibu yang lembut ... ialah yang
pertamakali mengajariku membaca Al-Quran dan mengajarkan cara menuliskannya.
Ibu Ela - Ibu Eli, wanita kembar yang mengajari
dan membimbing membaca Al-Quran dan membimbing menghafal surat-surat pendek
serta doa harian.
Teh Rini, beliaulah yang sukses mengajarkan
tahsin Al-quran kepadaku…mengajarkan tajwid, makhorojul huruf dan cara membaca
Al-Quran dengan benar.
Dan beberapa sosok Ustadzah lainnya yang
luarbiasa…
Merekalah yang lantas aku sebut sebagai
Ustadzah itu… yang sangat aku kagumi disaat kecil. Profesi yang dapat kita
katakana sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa”.
Semangat dalam mengajari, ikhlas dalam memberi, melakukan yang terbaik
demi tumbuhnya bakal generasi islami…
Betapa berartinya jasa para ustadzah, sosok
yang mungkin seringkali terlupakan oleh kita… dibandingkan dengan guru-guru
disekolah formal, para dosen yang bergelar professor dan tenaga pendidik lain
yang begitu kita hormati, sosok sederhana para ustadzah tak kalah mulia
dibandingkan dengan mereka yang bergelar tinggi. Dan sampai saat ini, mereka
masih menjadi pribadi-pribadi yang aku kagumi…
Semoga Allah memberikan keberkahan kepada ilmu
yang telah kalian bagikan dan menjadi amalan yang tak terputus hingga hari
akhir kelak, hingga kau terbangun dalam kemuliaan ilmu mu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar